Berdiri di tengah semua kemegahan itu. Ketika telinga dimanjakan oleh simfoni megah yang tiada akhir. Ketika mata disuguhi bentangan warna warni indah senja di perbukitan. Ketika hidung dicucukkan oleh aroma segar melati, apel dan lemon.. Ketika lidah dikecapkan oleh rasa coklat legit.. dan kulit disentuhkan oleh sutra halus yang menggelenyar membangkitkan gairah.
Semua kemegahan itu… terbentang di hadapannya dan merasuk pelan ke dalam dirinya.
Jadi.. apa masalahnya?
Alena memejamkan matanya. Mencoba menyimpan kemegahan pemandangan di hadapannya, menyimpan dengan rapi dalam berkas bertuliskan ‘lihat’, ‘dengar’, ‘cium’, ‘kecap’ dan ‘rasa’ di otaknya.
Just in case pada saat2 tertentu ia ingin merasakan semuanya lagi, ketika dia yang senantiasa menimbulkan semua rasa itu tak lagi di sampingnya..
Bingung…
Apa masalahnya?
Masalahnya adalah… semua berkas berkas itu takkan pernah bisa mewakili dia secara utuh. Semua keistimewaan indera itu ada menyertai hadirnya.. tapi tak bisa menggantikannya.
Itulah masalahnya…
Bahwa Alena takkan pernah bisa kehilangan dia, sampai kapanpun.
dan bahwa setiap inci inderanya telah telanjur merindukan dia.