Sebagian besar dari yang kita rasakan dan kita pikirkan, kita tanamkan dalam kepala kita, dan kita pergunakan dalam mengartikan pengalaman kita, termasuk dalam persoalan bahwa kita dibantu oleh orang lain.
Kita tidak pernah mencintai seseorang. Kita mencintai prasangka-prasangka kita, pikiran-pikiran kita tentang seseorang.
Jika kita menyangkal sesuatu, kita selalu terpaku pada sesuatu yang kita sangkal. Bila kita berjuang untuk melepaskan diri dari sesuatu, sebenarnya kita terikat dan tidak dapat melepaskan diri dari sesuatu itu. Selama kita bergumul melawan sesuatu, sebenernya kita memberi kekuatan pada sesuatu yang kita gumuli tersebut. kita memberikan kekuatan sebesar yang kita pergunakan untuk melawannya. Jika kita menyangkal sesuatu, kita terikat padanya. Cara untuk melepaskan diri darinya adalah dengan cara mencoba untuk memahaminya secara mendalam, mencoba untuk mencerna. Jangan menyangkal, pahamilah secara mendalam. Mencoba untuk mengerti maknanya yang paling dalam, dengan demikian kita tak perlu menyangkalnya; hal itu akan jatuh menggelincir, lepas dari tangan kita. Tetapi tentu saja, jika kita tak menyadari hal itu, jika kita terhipnotis oleh pemikiran bahwa kita tak mungkin bahagia tanpa dia, tanpa hal ini itu, sesungguhnya kita terpaku, tercekam padanya, pada hal ini itu. Yang perlu dilakukan bukanlah usaha-usaha seperti pengorbanan atau penyangkalan terhadap hal-hal tersebut. Semua tak ada gunanya. Yang perlu dilakukan adalah mengerti.. dan mengerti. Karena bila kita telah memahami sesuatu, dengan mudah kita melepaskan hasrat kita yang kuat mengenai hal itu.
We used to say : “Kamu adalah kebahagiaanku. Kalo aku gag memiliki kamu, aku tidak akan bahagia…” We need to understand this euphemism. It means, kita tidak dapat membayangkan bagaimana jadi bahagia tanpa syarat-syarat ‘bila….’. Kita gag bisa membayangkan bagaimana kita bisa bahagia tanpa semua itu. Mindset kita sudah terplot untuk meletakkan kebahagiaan kita di dalam hal-hal atau sekat-sekat yang kita buat sendiri.
Bahagia adalah rasa, dan sebagian besar dari yang kita rasakan dan pikirkan, kita tanamkan dalam kepala kita, dan kita pergunakan dalam mengartikan pengalaman kita. See, ketika pada suatu saat aku merasa bahagia, bawah sadarku secara otomatis merekam kejadian apa saja yang terjadi saat itu yang menimbulkan rasa bahagia ini… mengambil satu occasion, dan kemudian secara otomatis pula menjudge occasion itulah yang menimbulkan rasa bahagia, dan kemudian, naturally, bahagia akan diasosiasikan dengan occasion ituh. Ato occasion itu akan diasosiasikan dengan bahagia.
This.. I guess, bisa digunakan sebagai terapi dalam decision making, or healing. Ketika seorang perempuan menangis histeris dan berucap…. “don’t leave meeee…. I could never be happy without uuuu…..” dari situ bisa terbaca bahwa si gadis meletakkan kekasihnya pada sekat kebahagiaannya. Dan jika kondisi memang tidak memungkinkan untuk si gadis tidak ditinggalkan, so yg bisa dilakukan adalah, mengosongkan sekat kebahagiaannya yg tadinya berisi sang kekasih.. mungkin membiarkannya kosong sejenak, membuka sekat itu so that other thing could enter it. Mungkin sehelai hobby, ato sepotong pekerjaan, ato seonggok teman bisa mengisinya, temporarily… I dunno….
*lagilagi menghibur diri sendiri