Archive for July, 2007

kita tak pernah mencintai seseorang…

Posted in kinanti on July 22, 2007 by josephina

Sebagian besar dari yang kita rasakan dan kita pikirkan, kita tanamkan dalam kepala kita, dan kita pergunakan dalam mengartikan pengalaman kita, termasuk dalam persoalan bahwa kita dibantu oleh orang lain.

Kita tidak pernah mencintai seseorang. Kita mencintai prasangka-prasangka kita, pikiran-pikiran kita tentang seseorang.

Jika kita menyangkal sesuatu, kita selalu terpaku pada sesuatu yang kita sangkal. Bila kita berjuang untuk melepaskan diri dari sesuatu, sebenarnya kita terikat dan tidak dapat melepaskan diri dari sesuatu itu. Selama kita bergumul melawan sesuatu, sebenernya kita memberi kekuatan pada sesuatu yang kita gumuli tersebut. kita memberikan kekuatan sebesar yang kita pergunakan untuk melawannya. Jika kita menyangkal sesuatu, kita terikat padanya. Cara untuk melepaskan diri darinya adalah dengan cara mencoba untuk memahaminya secara mendalam, mencoba untuk mencerna. Jangan menyangkal, pahamilah secara mendalam. Mencoba untuk mengerti maknanya yang paling dalam, dengan demikian kita tak perlu menyangkalnya; hal itu akan jatuh menggelincir, lepas dari tangan kita. Tetapi tentu saja, jika kita tak menyadari hal itu, jika kita terhipnotis oleh pemikiran bahwa kita tak mungkin bahagia tanpa dia, tanpa hal ini itu, sesungguhnya kita terpaku, tercekam padanya, pada hal ini itu. Yang perlu dilakukan bukanlah usaha-usaha seperti pengorbanan atau penyangkalan terhadap hal-hal tersebut. Semua tak ada gunanya. Yang perlu dilakukan adalah mengerti.. dan mengerti. Karena bila kita telah memahami sesuatu, dengan mudah kita melepaskan hasrat kita yang kuat mengenai hal itu.

We used to say : “Kamu adalah kebahagiaanku. Kalo aku gag memiliki kamu, aku tidak akan bahagia…” We need to understand this euphemism. It means, kita tidak dapat membayangkan bagaimana jadi bahagia tanpa syarat-syarat ‘bila….’. Kita gag bisa membayangkan bagaimana kita bisa bahagia tanpa semua itu. Mindset kita sudah terplot untuk meletakkan kebahagiaan kita di dalam hal-hal atau sekat-sekat yang kita buat sendiri.

Bahagia adalah rasa, dan sebagian besar dari yang kita rasakan dan pikirkan, kita tanamkan dalam kepala kita, dan kita pergunakan dalam mengartikan pengalaman kita. See, ketika pada suatu saat aku merasa bahagia, bawah sadarku secara otomatis merekam kejadian apa saja yang terjadi saat itu yang menimbulkan rasa bahagia ini… mengambil satu occasion, dan kemudian secara otomatis pula menjudge occasion itulah yang menimbulkan rasa bahagia, dan kemudian, naturally, bahagia akan diasosiasikan dengan occasion ituh. Ato occasion itu akan diasosiasikan dengan bahagia.

This.. I guess, bisa digunakan sebagai terapi dalam decision making, or healing. Ketika seorang perempuan menangis histeris dan berucap…. “don’t leave meeee…. I could never be happy without uuuu…..” dari situ bisa terbaca bahwa si gadis meletakkan kekasihnya pada sekat kebahagiaannya. Dan jika kondisi memang tidak memungkinkan untuk si gadis tidak ditinggalkan, so yg bisa dilakukan adalah, mengosongkan sekat kebahagiaannya yg tadinya berisi sang kekasih.. mungkin membiarkannya kosong sejenak, membuka sekat itu so that other thing could enter it. Mungkin sehelai hobby, ato sepotong pekerjaan, ato seonggok teman bisa mengisinya, temporarily… I dunno….

*lagilagi menghibur diri sendiri

13

Posted in Uncategorized on July 22, 2007 by josephina

13 goes to track… :

Snow Patrol – Signal Fire

Staind – Reality

James Carrington – Ache

Maroon 5 – Nothing Lasts Forever

Chris Daughtry – It’s Not Over

Sister Hazel – Champagne High

Lifehouse – Everything

Jon McLaughin – Human

Nickleback – If Everyone Cared

Carrie Underwood – Before He Cheats

Jewel – Again Again

Alexi Murdoch – Orange Sky

Dream Theatre – The Ministry Of Lost Soul…

13 tracks, 13 days.. 13 pain.. it’s all bout 13…

<so lost without u…..>

pergilah ke medan perang, suamiku…

Posted in discuss on July 1, 2007 by josephina

Tiba-tiba kepikiran, gimana rasanya ya jadi perempuan2 yang melepas kekasih/suaminya ke medan perang? Zing…. ^^p

Well, banyak jawaban yang bisa ditemukan dari pertanyaan ituh. Dan pasti dimulai dari kata : “yaa.. tergantung ………….”

Tergantung gimana kadar perasaan si perempuan, tergantung sifat hubungan mereka; is it passionate or calm ones, tergantung risiko yang mengintai di medan perangnya, tergantung jangka waktu kepergian, tergantung aktivitas sehari2 yang ditinggal pergi, tergantung sifat dari si perempuan ; emosian ato berkepala dingin, tergantung penyampaian berita oleh si lelakinya, tergantung track record si lelakinya dalam hal kesetiaan, en bla bla bla..

Xexe, mari kita bicara yang general2 sajah, dalam kondisi perasaan masing2 keduanya cukup besar, sifat hubungan mereka antara passionate dan calm, risiko di medan perangnya gag terlalu besar (maksudnya kemungkinan untuk kembali itu 98% lah), jangka waktu kepergian 2 – 3 bulan, trus aktivitas sehari2 yang ditinggal pergi ya biasa aja, gag nganggur2 amat, gag berat2 amat… kira-kira, apa yang akan terjadi?

Si perempuan mungkin akan berontak hebat di awalnya. Sapa yang mau c pisah sama kekasih/suaminya kl feelingnya masih kuat banget? Bisa dimungkinkan beberapa barang seperti pintu, handphone, ato bantal, ato laptop, ato bahkan lelakinya dibanting… ^^p, nangis… ngamuk2… ato bagi yg introvert mungkin langsung diem n pergi gitu ajah. But then, I guess… begitu agak tenang, waktu otaknya bisa mulai diajak kompromi, dan kabut emosi tak lagi menutupi saraf akal sehatnya, dia akan mulai berpikir kembali…. Dan akan mulai merasa malu (mungkin) karena telah berlaku egois dan cuma mikirin diri sendiri. Kenapa dia Cuma mikirin kepentingannya sendiri, kemalangannya sebagai pihak yang ditinggalkan, kekhawatirannya karena tidak bisa lagi mendapatkan ‘fasilitas’ yang biasa ia dapatkan ketika masih ada kekasihnya…. Tanpa memikirkan bahwa, tidakkah mungkin si lelaki juga sama menderitanya seperti dia, berpisah dengan belahan jiwanya (halah!), masih lagi ditambah di sana si lelaki juga harus membanting tulang menjalankan tugas di medan perang…. (geez…. aku semakin merasa bodoh nulis hal yang gag penting ini… xixixixi)

Tp aku cenderung suka ekspresi Chloe Sullivan di salah satu edisi Smallville ketika Jamie menyampaikan kabar bahwa Jamie bakal dipromosiin n pindah kerja di kota lain. Jamie menyampaikannya dengan polos dan keriangan khas lelaki yang gag sensitip. N Chloe.. menanggapinya dengan…. I don’t know… siapapun yang agak sensitip pasti bisa membaca ketetergunan dan ke-shock-an Chloe menerima kabar itu, tapi dia berusaha menutupinya, mungkin karena gag pengen merusak kegembiraan Jamie, ato mungkin karena dia berpikiran… “hey, who the hell I am gitu loh…?”

Ew… ya… gitu deh… Intinya adalah… emosi boleh, Cuma jangan lupa kompromi, terutama ke diri sendiri. Gimana caranya kompromi? Just don’t think about urself, n try to see from the other side. N perhaps u’ll find a way. Satu celah kegembiraan yang bisa didapatkan dalam kondisi yang tidak mengenakkan dan hampir no way out seperti itu. Toh sebenernya kondisi tidak mengenakkan itu ‘hanya’ akibat dari self ego kita yang terbentur keadaan yang tak sesuai dengan keinginan kita.

Dan sesungguhnya, jika rasa terpinggirkan, akan terungkap fakta sederhana, bahwa si lelaki pergi untuk kebaikannya. Berperang demi negara, menuntut ilmu, bekerja, dsb. En once he come back 2 u later, u’ll know that both of u have pass one of the test. Xexexexe….

*menghibur diri sendiri