Everybody just said over n over again : “you’ll be alright… you’ll be just fine…”
Everybody just said to you : “u’re a tough girl, I know u can make it, I know u can get thru this… “
And I’m left with wondering, seberapa dekatkah hal yang terkatakan terus menerus itu dengan kenyataan? Cause I’m not feeling one yet. Aneh sebenernya. Kenapa justru orang lain yang bisa merasa yakin dengan keadaan kita, sementara kita sendiri tak yakin? Sumtimes my evil thought just thinkin’ this way, “ah, tau apa kau? Isn’t it just a cliché?”
But then I realized… pada kondisi yang paling putus asa, kata2 itulah mungkin yang paling ingin kita dengar. Karena pada dasarnya, kita butuh orang untuk meyakinkan bahwa kita akan baik-baik saja, meskipun mungkin kenyataannya jauh dari baik-baik saja. Karena pada dasarnya keyakinan itu adalah salah satu bentuk brainwash skala kecil yang kita butuhkan untuk melalui saat-saat yang tidak mengenakkan. One tiny faith, that we’ll be just fine.
Tapi… gimana kalo kita tak ingin baik-baik saja? Gimana kalo kita menyukai berada di kubangan yang tidak mengenakkan? Kubangan mengasihani diri sendiri, kubangan putus asa, kubangan kekecewaan, kubangan depresi, kubangan kesendirian… ? Have u ever feel good in that kind of not-good-situation? I guess U’ll be surprised to know that u often feel good in a not-good-situation. Well, at least, I did. ^_^ Feel good bukan dalam artian senang atau bahagia, tapi feel good dalam artian u didn’t want to get out. Dan ‘didn’t want’ inih bisa disebabkan karena malas, takut, atao telah terbiasa dengan situasi tak enak ituh. And then .. voila! There u go! That not-good-situation will happened to you over and over again…
Kapok lombok… uda tau kepedesan sampek nangis, masih juga terus mengulanginya. Kenapa? Ada yang bilang karena masih ada air putih yang bisa meredakan pedasnya.. Ada juga yang bilang karena kepedesan sampek nangis itu nikmat… Ada juga yang bilang kita butuh rasa pedas sesekali dalam makanan kita untuk membuat makanan lebih berwarna… Ada lagi yang bilang karena gag ada pilihan, bahwa hanya makanan itu yang tersodorkan di depan hidungnya…. Xexexe
Eniwe… apapun ituh, pada akhirnya.. yang kita butuhkan mungkin (hanya) orang2 terdekat yang menepuk punggung kita n said, “u’ll be alright..” over and over again. Supaya kita pun tersugesti untuk menjadi ‘baik-baik-sajah’.
-sedang tidak baik-baik saja-
Everybody’s taken a risk, or few risks, or a lot of risks in their life.