Perdebatan terakhirku dengan seorang teman mengangkat topik mengenai individualisme. Menurut hemat sang teman yang bersemangat ini, manusia itu bener2 merupakan makhluk individu diliat dari segala aspek. Maksudnya, segala sesuatunya bersumber dan bermuara pada dirinya sendiri. Egosentris. Pada akhirnya, segala yang dilakukan seseorang itu hanya bertujuan demi meraih kenyamanan dan kebahagiaannya sendiri.
I resist that (kemarin). Cuz I didn’t feel that way. Segala perbuatan baik yang kukira kulakukan demi menolong orang lain, atau demi kebaikan orang lain itu bener2 murni. Dan bukankah yang esensial dari segala perbuatan kita adalah niat? Bukannya hasil? Aku merasa telah banyak mempertimbangkan kepentingan pihak lain dari hampir setiap perbuatan yang kulakukan. Trying hard to make everyone’s happy n comfortable… that was my concern.
Tapi kuakui, aku memang agak sedikit terdiam ketika ia memberi contoh sederhana… Memberi tempat duduk di bis ke orang lain, contohnya. Apa tujuanmu? Why were u doing that? Karena etika moral? Ato karena sebab lain?
Munafik kl aku gag bilang separuhna karena etika memang mengharuskan kita memberi t4 duduk ke pihak yg lebih membutuhkan. Tapi kurasa buatku etika hanya sepersekian dari motifku memberi tempat duduk ke orang lain. Selebihnya adalah karena aku merasa lebih senang, overwhelmed karena uda berbuat baik, uda membuat orang lain merasa lebih nyaman, meskipun aku harus bersusahpayah berdiri.
Itu poinnya, katanya… kita berbuat sesuatu lagi2 kl dirunut motifnya, pasti bakalan balik ke diri sendiri. Kita hanya mengejar kesenangan dan kepentingan kita sendiri. Dan kesenangan inilah menurutnya yang sangat subyektif bagi masing2 orang. Ada yg lebih senang duduk, santai, makanya cuek aja gag ngasih tempat duduk ke orang lain. Ada yg mendapat kesenangan dengan melihat orang lain senang meski dirinya harus bersusah2. Ada juga yg mendapat kesenangan dengan mendapat pujian karena berbuat baik. Hahaha…. [memang sedikit terdiam, karena masuk akal juga c….].
But I still not agree with it, until tonight.
Ketika merasa capek berusaha membuat orang lain senang dan nyaman. Ketika lelah dengan selalu memikirkan dan mempertimbangkan kepentingan orang lain, padahal they didn’t even recognize it, aku lagi2 menyadari satu poin penting lagi…. Ikhlas seratus persen belom ada di setiap langkahku. Dalam setiap perbuatan (baik)ku selalu ada harapan2 tersembunyi, bahwa aku akan mendapatkan imbalan.
N that’s really killing me. Karena pada kenyataannya, kita tidak bisa mengharapkan orang lain selalu membalas dan melakukan apa yg kita harapkan.
Ini membawaku pada perdebatan di atas. Menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah makhluk individu, yang membawa motif pribadi dalam setiap langkah kita, that’s first step. Dan kemudian beranjak pada pemahaman bahwa kita tidak bisa berharap banyak pada orang lain. Cuz not everybody live by thinking others. If we understand this, then peace n freedom shall be with us.
So, kucing yg satu ini akan menjadi makhluk individu yang tetap akan berusaha berbuat baik dan memikirkan kepentingan orang lain, bukan karena dirinya ingin diperlakukan baik dan dipikirkan kepentingannya, tapi karena hal itu membuatnya senang, nyaman, bahagia, dan lengkap. So, she barely don’t need anybody. [ekstrim banget gag c? xexexe]
Tapiii…. Guess what… bacaan kitab suci hari ini mengangkat perikop Pengkhotbah 4:9 [berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka…..]
Hahaha…. Teori individualisme tadi langsung dibantah segera oleh alkitab… hahaha…. Zing…. Iya deh, berdua, berduaa….