Archive for December, 2007

egosentris…

Posted in discuss on December 16, 2007 by josephina

Perdebatan terakhirku dengan seorang teman mengangkat topik mengenai individualisme. Menurut hemat sang teman yang bersemangat ini, manusia itu bener2 merupakan makhluk individu diliat dari segala aspek. Maksudnya, segala sesuatunya bersumber dan bermuara pada dirinya sendiri. Egosentris. Pada akhirnya, segala yang dilakukan seseorang itu hanya bertujuan demi meraih kenyamanan dan kebahagiaannya sendiri.

 I resist that (kemarin). Cuz I didn’t feel that way. Segala perbuatan baik yang kukira kulakukan demi menolong orang lain, atau demi kebaikan orang lain itu bener2 murni. Dan bukankah yang esensial dari segala perbuatan kita adalah niat? Bukannya hasil? Aku merasa telah banyak mempertimbangkan kepentingan pihak lain dari hampir setiap perbuatan yang kulakukan. Trying hard to make everyone’s happy n comfortable… that was my concern.

 Tapi kuakui, aku memang agak sedikit terdiam ketika ia memberi contoh sederhana… Memberi tempat duduk di bis ke orang lain, contohnya. Apa tujuanmu? Why were u doing that? Karena etika moral? Ato karena sebab lain?

Munafik kl aku gag bilang separuhna karena etika memang mengharuskan kita memberi t4 duduk ke pihak yg lebih membutuhkan. Tapi kurasa buatku etika hanya sepersekian dari motifku memberi tempat duduk ke orang lain. Selebihnya adalah karena aku merasa lebih senang, overwhelmed karena uda berbuat baik, uda membuat orang lain merasa lebih nyaman, meskipun aku harus bersusahpayah berdiri.

Itu poinnya, katanya… kita berbuat sesuatu lagi2 kl dirunut motifnya, pasti bakalan balik ke diri sendiri. Kita hanya mengejar kesenangan dan kepentingan kita sendiri. Dan kesenangan inilah menurutnya yang sangat subyektif bagi masing2 orang. Ada yg lebih senang duduk, santai, makanya cuek aja gag ngasih tempat duduk ke orang lain. Ada yg mendapat kesenangan dengan melihat orang lain senang meski dirinya harus bersusah2. Ada juga yg mendapat kesenangan dengan mendapat pujian karena berbuat baik. Hahaha…. [memang sedikit terdiam, karena masuk akal juga c….].

 But I still not agree with it, until tonight.

Ketika merasa capek berusaha membuat orang lain senang dan nyaman. Ketika lelah dengan selalu memikirkan dan mempertimbangkan kepentingan orang lain, padahal they didn’t even recognize it, aku lagi2 menyadari satu poin penting lagi…. Ikhlas seratus persen belom ada di setiap langkahku. Dalam setiap perbuatan (baik)ku selalu ada harapan2 tersembunyi, bahwa aku akan mendapatkan imbalan.

N that’s really killing me. Karena pada kenyataannya, kita tidak bisa mengharapkan orang lain selalu membalas dan melakukan apa yg kita harapkan.

 Ini membawaku pada perdebatan di atas. Menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah makhluk individu, yang membawa motif pribadi dalam setiap langkah kita, that’s first step. Dan kemudian beranjak pada pemahaman bahwa kita tidak bisa berharap banyak pada orang lain. Cuz not everybody live by thinking others. If we understand this, then peace n freedom shall be with us.

So, kucing yg satu ini akan menjadi makhluk individu yang tetap akan berusaha berbuat baik dan memikirkan kepentingan orang lain, bukan karena dirinya ingin diperlakukan baik dan dipikirkan kepentingannya, tapi karena hal itu membuatnya senang, nyaman, bahagia, dan lengkap. So, she barely don’t need anybody. [ekstrim banget gag c? xexexe]

Tapiii…. Guess what… bacaan kitab suci hari ini mengangkat perikop Pengkhotbah 4:9  [berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka…..]

Hahaha…. Teori individualisme tadi langsung dibantah segera oleh alkitab… hahaha…. Zing…. Iya deh, berdua, berduaa….

menari dengan hati…

Posted in discuss on December 12, 2007 by josephina

Konon ada seekor lipan yang sangat pandai menari dengan keseratus kakinya. Semua makhluk di hutan berkumpul untuk melihat setiap kali lipan itu menari, n they all very impressed of its beautiful dancing. Tapi ada satu makhluk yang tidak senang melihat lipan menari, dan itu adalah kura-kura darat

Bagaimana aku bisa membuat lipan itu berhenti menari?, pikir si kura-kura. Dia tidak mungkin mengatakan begitu saja bahwa dia tidak menyukai tarian itu. Pun dia tidak dapat mengatakan bahwa dia sendiri dapat menari dengan lebih baik, karena dia memang tidak bisa menari lebih baik. Maka dia membuat sebuah rencana jahat.

Dia duduk, dan menulis surat kepada si lipan. “Wahai lipan yang tiada tara”, tulisnya, “aku adalah pengagum tarianmu yang sangat indah. Aku ingin mengetahui bagaimana kamu melakukannya ketika kamu menari. Apakah kamu mengangkat kaki kirimu nomor 28 dan kemudian kaki kananmu nomor 39? Atau apakah kamu mulai dengan mengangkat kaki kananmu nomor 17 sebelum kamu angkat kaki kirimu nomor 44? Aku menanti-nanti jawabanmu dengan penuh harap. Dengan penuh hormat, kura-kura.”

Ketika si lipan membaca suratnya, segera saja dia mulai memikirkan tentang apa yang sebenarnya dia lakukan ketika sedang menari. Kaki mana yang diangkatnya lebih dulu? Dan sesudah itu kaki mana lagi?

…..

Dan si lipan tak pernah menari lagi.

Wew… another issue about contradictive between logical mind and unconsciousness. But this time, mendukung issue bawah sadar n agak menyudutkan pemikiran logika. Kali ini, imajinasi terserimpung oleh pertimbangan akal. Kadang, akal bisa menghambat imajinasi, dan dalam kasus ini, jelas merugikan, karena menghambat suatu kreativitas, suatu karya, dan mungkin bahkan bisa menghambat temuan2 baru. Benarkah begitu?

Ummm… sebagai akal-mania, I’m not gonna giving up that easily. Xexexexe. Karena bagiku, selalu ada hubungan saling mempengaruhi yang cukup rumit antara imajinasi dan akal, atau antara pikiran dan renungan. Dan masing-masing punya porsinya sendiri2. Bisa saling menghambat, maupun saling mendukung.

Sama seperti ketika pertama kali belajar latin salsa. Waktu instruktur menunjukkan beberapa gerakan intermediate sambil terus2an berkata, “yang ini gag ada apalannya… yang ini gag ada apalannya…” hehehe. Gag salah, karena latin salsa memang akan jauh lebih mudah dilakukan apabila kita menari dari dalam hati, by feeling the music itself. Tapi yang pasti, awalnya.. kita pasti membutuhkan diberitahu basic step demi step. Yang mana kumbya, yang mana merengue, kaki mana duluan yang maju… Akal, bukan?? Then, setelah dilakukan berulang2, semuanya akan masuk ke dalam…. n let the imagination begin.

aku mau

Posted in selintas pikir... on December 8, 2007 by josephina

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Slalu bersedia bahagiakanmu apapun terjadi
Kujanjikan aku ada

Sejenis2 selimut hati. Hik hik hik…

Apa jadinya jika kita bertemu pada kondisi yang sama sekali lain…? Would it make any difference? Iyah, different, maybe.. karena ada kemungkinan justru pada kondisi yang sama sekali lain itu kita tidak bertemu sama sekali. Nah, mana yg dipilih? Bertemu tetapi tak bersatu, ataukah tak bertemu sama sekali?

(mending gag ketemu sekalian, kalii…) *mental orang yg gag mau susah, tapi praktis
(mending ketemu ajah, karena sampe sekarang pun perjumpaan dan relasi dengannya merupakan sesuatu yang indah yang patut disyukuri) *mental org yg gemar menghibur diri sendiri, tp positip thinking

Hmmm….?
Auk ah, elap! :D

 

rindu distorsi…

Posted in resensi on December 3, 2007 by josephina

ketika mulai terlarut dengan musik2 ibukota yang berbau hip that hopping…

i’m back in tracks

started with PAS – Jengah (i looovvv this track) … n then…

The used – hard to stay
The used – blue and yellow
DT – In the Presence of Enemies
DT – Forsaken
Bon Jovi – Blaze of Glory
Bon Jovi – Livin on A Prayer
Creed – My Own Prison
Muse – Map Of Problematique
Metallica – My Friends of Misery
Evanescence – Haunted
Idiot Pilot – Retina & The Sky
The Used – Pretty Handsome Awkward
HIM – Passion’s Killing Floor
Linkinpark – No More Sorrow
Audioslave – Cochise
Bad Company – Ready For LoveLast but not least…. Helloween – Power

hahaha… ajenx’s back…

 *ada lagi gag ya??? hmmm…. menjelajah isi kompie….

invictus

Posted in discuss on December 1, 2007 by josephina

It all started with a poem named Invictus. Gag tau sapa authorna, tapi kira2 begini penggalannya :

“Aku adalah tuan atas nasibku ; aku adalah kapten bagi jiwaku…”

Yang kemudian diikuti dengan sanggahan dari pihak2 yang mengusung tema religi, terutama Kristiani. Bantahannya adalah, bahwa menjadi kristiani berarti menerima ketidakberdayaan kita dan mengakui ketergantungan total kita pada Tuhan. Jadi pendapat yang termaktub dalam Invictus yg menyatakan bahwa kita sendiri yang memegang kendali benar2 salah besar menurut paham kristen.

Ahahahaha….. bottom line is, IMO kedua pendapat itu termasuk dalam ranah pemikiran ekstrim. Dua2nya hitam dan putih. Dan kalo ada hitam dan putih, selalu ada porsi untuk grey area, bukan begitu? Dan meskipun aku tidak menyukai abu2.. I must admit now, that I’m in grey area, in this case.

I do believe in thoughts. Bahwa pemikiran merupakan kunci dan jawaban dari seluruh perilaku manusia. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Dan (pikiran) kita memegang kendali dari hampir seluruh aspek hidup kita. Bahagia dan sedih tak akan terjadi tanpa sepersetujuan kita, dan tanpa bisa dicari tahu apa penyebab dan solusinya.

But behind that.. (or beyond that?) I also do believe on some kind of mighty power that rules us. ‘Sesuatu’ yang tidak berada dalam ranah logika, tetapi berdiam dalam ruang iman dan kepercayaan (kaya pelajaran SD ajah, hehehe). Therefore, I do agree with the statement that we’re all worthless in front of God. Kita tak berdaya, dan kita bergantung pada-Nya… dan Dia-lah tempat yang paling tepat untuk digantungi dan dituju ketika segala sesuatu terasa unbearable.

Dualisme?

Hmm… some say it that way, dan aku juga gag berusaha terlalu keras untuk membantahnya. Karena buatku, hidup selalu bisa dijalani dengan 2 cara utama :

  1. trying as hard as we can untuk menjalani dan mengendalikan hidup dengan kekuatan pemikiran dan logika, dan
  2. pasrah pada kehendak dan rencana-Nya.

dan hidup yang tak mudah pun akan bisa kita lalui dengan baik.

-menjawab kritik dari seseorang mengapa aku selalu berusaha melogika segala sesuatunya-