just like a star

Posted in Uncategorized on February 8, 2009 by josephina

just like a star across my sky,

just like an angel off the page,
you have appeared to my life,
feel like I’ll never be the same,
just like a song in my heart,
just like oil on my hinge,
honour to love you,

still i wonder why it is,
i don’t argue like this with anyone but you,
we do it all the time,
blowing out my mind,

u’ve got this look i can’t describe,
u make me feel I’m alive,
when everything else is au faite,
without a doubt you’re on my side,
heaven has been away too long,
can’t find the words to write this song,
your love…

ihave come to understand the way it is,
it’s not a secret anymore,
’cause we’ve been through that before,
from tonight I know that you’re the only one,
i’ve been confused and in the dark,
now I understand…

[just like a star _ corrine bailey rae]

Kemarin, ketika seseorang berkata ‘segala sesuatu indah pada waktunya’ aku bertanya… ‘nya-nya’ siapa? ‘nya-nya’ apa? ‘Nya’-nya si indah? Ato ‘nya’-nya segala sesuatu? Samakah dimensi waktu si ‘indah’ ato si ‘segala-sesuatu’ itu denganku? Waktu itu kesimpulannya adalah waktuku dan waktu si ‘segala sesuatu’ ada pada dimensi yang sama… hanya waktu si ‘indah’ yang rupa-rupanya tidak sedimensi dengan kami, karena tidak bisa dimeasure dan diprediksi.

Kemarin, ternyata aku telah menitikberatkan pada waktu. Hampir secara tidak sadar menuntut agar keindahan itu datang, dan secara bersamaan menghibur diri ketika si indah tak datang jua… ^0^

Now I realized…. Bahwa masalahnya bukan hanya terletak pada si waktu semata. Not only need two to tango… but it need three to threesome.. (^0^). 3 hal itu terjadi harus bersamaan…. Sesuatu – indah – dan waktu.

Sesuatu… berarti harus ada barangnya (objek ato subjekna),

Waktu… pas timingnya

Indah… adalah rasa… siap untuk merasa indah… bisa berarti niat ato harapan, ato pasrah…

Dan tentang bagaimana dan kapan kita bisa memiliki ketiganya… itu misteri Tuhan, dan biarkan jadi misteri-Nya.

Well, Tuhan… jangan bilang lagi ini semua terlalu tinggi….

Jangan bilang lagi bahwa bintangku terlalu tinggi kali ini…

Ingin diam, berlindung dalam teduh sinarnya…

Advertisements

rushing

Posted in kinanti on February 2, 2009 by josephina

Don’t rush a thing. itu yang selalu mamaku bilang, n yang belakangan ini dengan tersenyum aku amini.. That’s my nu resolution. Work, life, love… all got their own time.

At work, when we rush it, we’ll always have to go back and revise everything, cuz rushing is great mine for mistakes….

Dan kenapa ladang subur bagi kesalahan? Karena manusia sebenernya makhluk yg unik. Secara anatomi ia melulu terdiri dari sistem n jaringan yang saling berkesinambungan sehingga seharusnya menghasilkan satu output yang sistemik pula.

Tapi tidak…. (at least tidak selalu)… karena akan selalu ada campur tangan dari pihak rasa dan emosi… yang sama sekali gag berkaitan dengan sistem. Jadi sempurna tanpa salah dan cacat bukanlah porsi kita. Dan mau dipacu ato tidak, akan selalu ada kesalahan. Sehati2nya suatu pekerjaan dilakukan pun kadang masih luput dari kesalahan, apalagi jika diburu2…

At life n love.. when we rush it, we only get nothing but frustration. Karena hidup tidak serta merta memberikan apa yg kita mau. Hidup bukanlah kantong ajaib doraemon, yang selalu menyediakan apa yg kita inginkan secara harfiah. Tapi hidup menyediakan tools yg bisa digunakan untuk mencapai apa yg kita inginkan. And it takes time? Yes…. It definitely does.

Dan kurasa, sang waktu sedang berpihak padaku, sekarang… ^^

akhirnya…

Posted in kinanti on January 3, 2009 by josephina

sahabatku, usai tawa ini izinkan aku bercerita
telah jauh kumendaki, sesak udara di atas puncak khayalan
jangan sampai kau di sana
telah jauh ku terjatuh, pedihnya luka di dasar jurang kecewa
dan kini sampailah aku di sini

yang cuma ingin diam duduk di tempatku
menanti seorang yang biasa saja
segelas air di tangannya, kalaku terbaring sakit
yang sudi dekat, mendekap tanganku, mencari teduhnya dalam mataku
dan berbisik..

‘pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku…’

dan demi tuhan, hanya itulah yang… itu saja kuinginkan

telah lama… ku menanti satu malam sunyi
untuk ku akhiri
dan usai tangis ini aku kan berjanji
untuk diam duduk di tempatku
menanti seorang yang biasa saja
segelas air di tangannya, kala ku terbaring sakit
menentang malam tanpa bimbang lagi
demi satu dewi yang lelah bermimpi
dan berbisik….

‘selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku’

wahai tuhan… jangan bilang lagi itu terlalu tinggi…
jangan bilang lagi.. itu telalu tinggi…

curhat buat sahabat_dee_

bandung…02.01.09

just a slob like one of us…

Posted in selintas pikir... on December 19, 2008 by josephina

…Elia sudah datang… tetapi orang tidak mengenal Dia, dan memperlakukan-Nya menurut kehendak mereka….

(Mat 17:12)

…What if God was one of us? Just a slob like one of us? Just a stranger like one of us, try to make His way home… back up to heaven all alone… nobody call Him on the phone… except for the Pope maybe in Rome…

(joan osbourne – one of us)

How do we treat others daily? Commonly, acuh adalah perlakuan yang biasa kita terapkan untuk stranger, untuk org yang kita anggap ‘others’ or liyan. Jangankan stranger… we even treat someone that we know uncarelessly. Just because they’re not important for us, dan tidak mendatangkan keuntungan bagi kita. Xexexe. Face it, kita orang adalah makhluk yg oportunis, dan full of pamrih. Do something, krn kita anggap itu menguntungkan, sadar ato tidak.

Dan berkaitan dengan 2 quote di atas, kita cenderung berpikir dalam koridor berpikir kita sebagai manusia. Uda mematok bahwa segala sesuatu yg kita pahami selama ini, gambaran yang terbentuk selama ini adalah mutlak. Gag ada ruang sama sekali bagi bentuk dan gambaran lain. Dulu orang berpikiran bahwa bumi itu datar. Sama sekali gag terpikir bahwa bumi itu bulat. Dan yg berpendapat bulat langsung dianggap bid’ah. Orang berkata mawar itu merah… dan jika ada bunga warna biru, berarti jelas bukan mawar. (Padahal it’s a possibility, n it is exist : mawar biru). Orang berkata malaikat itu ‘tergambarkan’ sebagai sosok yg berwibawa, suci, transparan, dengan jubah putih yg melambai2, turun dari langit dengan berkendara awan kinton (???!), menawan, cemerlang, rupawan, dan bersayap… hehehe…. (Dewi lestari gituw…)

Benarkah?

Tuhan juga diidealkan sebagai sosok yg unreachable, on His heavenly throne… n sumtimes walking down to earth with a thousand guardian line up behind Him n the society on earth just line up, n trying hard to reach His sleeve… Tuhan yang berjubah, yg mighty.. powerful… ? ah ya… Gag ada yg salah dengan gambaran ituh.

Tapi mungkinkah Ia kadang2 berbaju biasa? Kadang2 menjelma sebagai common people, a completely stranger person, yg butuh bantuan kita, dan juga yg membantu kita?

I do believe it. He’s everywhere. Tapi tidak kemudian kita trus menganggap setiap orang sebagai Tuhan… but as we hold a thought that God might be a stranger among us, bahwa Dia di tengah2 kita, bisa jadi trigger bagi kita untuk bisa lebih open-minded.., untuk berbuat lebih baik. Treat everybody equally, in proper. Ga semena2. Caring others. Make this world the whole lot better. Karena apapun yg terjadi, kita siap untuk membantu. Dan terbuka untuk dibantu. Setidaknya bisa membantu kita untuk lebih memahami orang lain.

Intinya adalah open ur mind. Dan satu lagi : tidak selamanya kita benar dan tidak semua hal sesuai dengan idea kita. They all are developing. N so must we. Sekarang bumi itu bulat. Besok? Masih tetep bulat, diyakininya… but don’t let go off thought that there might be a teeny tiny slight of chance that we’re all wrong all this time… (mungkin gag ya dgn semua poto2 luar angkasa ituh??) or, mungkin pada suatu saat tyt bumi tiba2 jadi lonjong karena terus berputar? (halah… xexexexe)

Eniwe…

Seorang suci sedang melakukan rutinitasnya berdoa malam seperti biasa. Tiba2 terdengan sirine, dan orang berlari2an karena dikabarkan akan terjadi tsunami… air laut telah naik dan mencapai dataran, dan akan segera menyapu habis kota… Sang orang suci keluar, dan dilihatnya orang2 panik dan berusaha menyelamatkan diri… ada yg mempersiapkan perahu, atau naik kendaraan untuk menuju tempat yg lebih tinggi. Orang2 berteriak padanya, “mari bapa… ikut kami. Kami ada kendaraan, mari kita menyelamatkan diri kita” Sang orang suci bergeming… dia berkata… “tidak.. Tuhan akan menyelamatkanku. Pergilah kalian.” dia masuk kembali ke rumah ibadah dan naik sampai ke lantai 2.

Air datang sampai hampir mencapai lantai 2… ada satu perahu berisi satu keluarga datang mendekat… dan kepala keluarga berteriak pada sang orang suci.. “ Bapa… ikutlah kami, naiklah dalam perahu. Selamatkanlah dirimu..” Tapi sang orang suci ganti berteriak, “Tidak terima kasih… Tuhan yang akan menyelamatkanku.” Dan ia pun naik sampai di atap.

Air terus meninggi… orang2 sudah menyelamatkan dirinya masing2… dan datanglah kembali perahu berisi tim penyelamat. Mereka mendengar ada seorang suci yg masih tertinggal di lokasi air bah. Mereka pun mendesak sang orang suci naik ke perahu. Tapi sang orang suci berkata “ Tidak… aku yakin Tuhan akan mengirimkan perahu, atau datang sendiri untuk menyelamatkanku. Kalian pergilah selamatkan orang lain dulu…”

Air menenggelamkan rumah ibadah itu, bersama dengan sang orang suci. Meninggallah ia. Dan ketika sesampainya di surga, dia berkata dengan sedikit protes kepada Tuhan : “Tuhan, kenapa Kau tak menyelamatkanku? Aku sudah percaya kepadaMu, aku percaya Kau akan datang menolongku. Di mana Engkau ketika aku membutuhkan bantuan dan berteriak minta tolong padamu?”

Jawab Tuhan : “Ah… Aku datang menolongmu dan mengirimkan perahu sebanyak 3x, tapi kau terus menolakKu. Apa lagi yang harus Kulakukan?”

God works thru an angel hand… and that angel is faceless… u’ll never know, never can predict how who when n why…

sacrifice is for others…

Posted in selintas pikir... on December 15, 2008 by josephina

Dengan berkorban, hati menjadi tenang….

Oi… kenapa status ym seorang kawan beberapa waktu lalu terus terngiang2 di kepalaku yak? Ada yang gag pas? Ato malah justru itu statement yang benar dan harus diamini?

Hmm… benar… mungkin. Karena berkorban (ato ketika itu c konteksnya berkurban) merupakan kegiatan yg mulia n gag mementingkan sendiri, n umumnya akan menguntungkan pihak lain. Wajar dunk, setelah melakukan kegiatan mulia kita jadi ngerasa overwhelmed…. ^^ Tapi kok… ada yg kurang pas dengan statement ituh.

Pertama : it means that kegiatan berkorban merupakan suatu kewajiban bagi dia.. n we all know lah, segala sesuatu yang uda diembel2i kata kewajiban itu berarti tidak datang dari hati. Krn tujuannya hanyalah fulfilment. Pemenuhan kewajiban itu tadi…

Kedua : ketika kita mengamini bahwa dengan berkorban hati jadi tenang, dan karenanya kita berkorban, berarti tujuan dari kita berkorban adalah pencapaian hati yang tenang, bukan begitu? Nah, tidakkah ini salah satu produk egoistis kita lagi? Bahwa lagi2 kita sendiri yang diuntungkan dengan kegiatan kita, yang mana bertentangan dengan spirit kurban di awal (which is gag mementingkan diri sendiri dan menguntungkan pihak lain)…. ?? benarkah demikian? The big question is : benarkah semua yang kita lakukan ujung-ujungnya adalah demi keuntungan kita sendiri? Hayoooo……

Sepertinya c begitu… makanya… menurutku c ya, kl mau n niat berkorban tu ya berkorban ajah… ga usah diembel2i sama biar hati tenang ato dapet pahala berlipat ganda ato dapet sesuatu yang indah setelahnya… xexexe. Just as simple as… making the world a whole lot better. Helping others. Bukan begitu benar?

Dan yaaa…. Hampir2 mirip kek yg dijeritkan Rick Price lewat Heaven Knows-nyah, :

my friends keep telling me, that if u really loved her u’ve gotta set her free… and if she returns in kind I’ll know she’s mine…

hehehe…. Gag salah juga… tapi teori itu sering banget disalahinterpretasikan oleh beberapa orang sbb :

hmmm…. supaya dia kembali padaku, aku harus melepaskannya dulu. Hehehehe. (devil)

Tolong ya…. Lepas ya lepas ajah… kembali ya kembali ajah…

Zing…. Nah, sepertina dengan jalan pikiran spt ini aku gag bakal bisa jadi politikus niy… xexexexe. Ya maap, kite kan ape adenye, mpok!

Eniwe, the point is… Janganlah kita mendikte sang takdir bahwa ketika kita melakukan A kita akan dapat Z… cuz yang akan kita dapatkan hanyalah kekecewaan dan frustrasi jika kita mematok semua hasil… krn buat si kucing yang agak aneh ini, pohon kehidupan akan terus memberikan dia anggur, salak, kesemek or duren, ketika dia mengira sedang menanam dan memanen pohon apel.

dream, hope, n wait

Posted in Uncategorized on December 13, 2008 by josephina

What’s this life for, exactly?

Seorang ‘kinan’ akan berkata bahwa hidup adalah penantian, yang sarat dengan harapan dan mimpi. Singkatnya, life is all about reaching our perfection, or our target, or our goal. Benarkah?

Mungkin iya… karena jika tidak, apa lagi?

Ato adakah yang berkata bahwa hidup itu adalah saat ini? Deal, living and doing what is given? Hanya menjalani apa yg ada sajah?

Pasti ada yg berpikiran seperti itu.

But I think everyone must’ve had an ideal bubble thought bout their life. Dan hal itulah yg sebenernya kita jalani detik demi detik. We’re all climb to reach our ideal life. Pertanyaannya adalah, apakah kita akan mencapainya dengan bekerja dan berusaha, atau kita mencapainya dengan menanti?

The answer is, depend on.

If your ideal life is having carrier with certain income, then u should reach that idea by working hard. Sama sekali gag boleh berpangku tangan.

But if your ideal life is to find a perfect soulmate n then build a happy family, maybe u need not to work too hard like u did with ur job. Xexexe. (iya toh?)

But still…. They all require time. Butuh penantian. Bedanya Cuma menanti dengan berusaha, ato menanti dengan berserah.

Like I said before… hidup adalah penantian. N so therefore… Kinanti is an everlasting word. Karena setiap mimpi dan harapan yg tercapai akan segera tergantikan dengan mimpi lain yang baru yg mungkin lebih utopian, lebih gag masuk akal… Karena itulah kita, manusia… dibangun oleh mimpi, dan membangun mimpi. Dan manusia dengan mimpi dan harapan adalah manusia yang hidup, dan menghidupkan…

Let’s dream

Let’s hope

Let’s wait

n we all shall choose…

Posted in discuss on December 12, 2008 by josephina

Ah ya… tentang pilihan, yang akan selalu jadi warna dalam hidup inih. Kanan atau kiri? Pegang atau lepas? Tunggu atau tinggalkan? Itam ato putih? Ada yg fatal akibatnya, kalo tidak hitam ya putih…, tapi ada juga yg masih bisa dikompromisasikan aka : sesuatu yang tidak hitam belom tentu putih. Dan putih sendiri bisa bermacam2…. Putih susu, putih gading, putih khaki, putih pucat, putih muda, putih tuwa en so on so on…

Eniwe… ketika Tuhan menanyakan kepada adam dan hawa tentang pertanggungjawaban mereka telah memakan buah terlarang berkelit… masing2 bersikukuh bahwa mereka tidak bisa disalahkan, karena mereka hanya dibujuk pihak lain. Adam dibujuk oleh hawa… dan hawa dibujuk oleh ular. Ular? Setidaknya si ular ini menerima nasibnya sebagai gong kesalahan…. Bagus juga c… xexe.

Adam dan hawa sama2 membela diri dengan menyatakan bahwa “we have no choice, God!!… we have to do that!!! The situation has forced us to do that!!!”

Is it true? Benarkah kita pernah ‘tidak-punya-pilihan’ sama sekali?

Atokah itu Cuma excuse kita ajah, yg ingin lari dari tanggung jawab, apapun itu?

We do have conscience. Hati kecil yg sering kali berbisik dengan suara selirih desau.. yang menyuarakan beberapa opsi dalam setiap langkah kita. Tarolah si adam dibujuk si hawa. Adam gag punya pilihan selain menyanggupi bujukan si hawa. Benarkah ia tak punya pilihan lain? Tidak kan? Apakah si hawa membujuknya dengan pisau terhunus? Tidak? Dan seandainya ada pisau terhunus pun teteupppp ada other option : eat… or die…

On the other hand, kita bisa bilang bahwa setiap pilihan yang kita punya tidak berdiri sendiri. Selalu berkaitan dengan hal lain lagi… adam tidak ingin mati, ato he curious too bout the fruit or the fruit’s cause. Then he shall ate… jadi, akan selalu ada kebutuhan2 yang mempengaruhi pilihan2 kita.

Kl uda urusannya kebutuhan… I must say that it’s indebatable. Gag ada salah pun benernya. Krn kembali ke nurani masing2…

Bottom line is, jangan pernah bilang bahwa kita tak punya pilihan sama sekali. Cuz we always have one. Tentang mana yg musti dipilih… it’s up to us.

Hari ini ada yg bilang padaku : pilihan yang paling baik adalah yang bisa mendekatkan kita pada Tuhan.

Yah according to that quote… I guess I’m in the right path …. ^^